Ahmad Yani Blog's

1 Januari 2011

Sriwijaya dan Songket

Filed under: Sejarah — Achmad Yani @ 2:43 pm

Sekilas Songket Palembang

Kota Palembang memiliki sejarah yang panjang, mulai dari kejayaan kerajaan Sriwijaya sampai Kesultanan Palembang Darussalam. Kerajaan Sriwijaya pada masa kejayaannya sekitar tahun 683 Masehi menjadi cikal bakal kota yang terletak di tepian sungai Musi ini. Banyak peninggalan tak ternilai berasal dari kerajaan terkenal itu, salah satunya adalah budaya wastra (kain) yang indah yaitu songket.

Gemerlap dan kilauan emas yang terpancar pada kain tenun ini, memberikan nilai tersendiri. Rangkaian benang yang tersusun dan teranyam lewat pola simetris membuat kain ini dibuat dengan keterampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, serta yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain.

Songket tradisional ini dibuat dengan ketrampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, serta yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain. Kemampuan ini biasanya diwariskan secara turun-temurun.

Sewet Songket atau kain Songket adalah kain yang biasanya dipakai atau dikenakan sebagai pembalut bagian bawah pakaian wanita. Biasanya sewet ini berteman dengan kemban atau selendang.

Bahan sewet songket ini ditenun secara teliti dengan mengunakan bahan benang sutera. Ciri khas songket Palembang terletak pada kehalusan dan keanggunannya sangat menonjol serta motifnya tidak sama dengan motif kain songket daerah lain Oleh karena itu sewet songket ini dibuat dengan bahan halus dan seni yang tinggi maka harganya cukup mahal. Biasanya dipakai pada waktu tertentu pada saat perayaan perkimpoian. Pakaian songket lengkap yang dikenakan oleh pengaten, biasanya dengan Aesan Gede (kebesaran) Aesan Pengganggon (Paksangko) Aesan. Selendang Mantri Aesan Gandek (Gandik) dan sebagainya.

Sehelai kain tenun songket dari Palembang, mempunyai banyak makna, dan mempunyai nilai sejarah. Kain ini mungkin sebagai peninggalan nenek moyang si pemilik yang ditenun selama satu tahun, mungkin sebagai mahar, mungkin sebagai busana kebesaran adat pengantin , mungkin sebagai benda koleksi keluarga yang berharga, dan masih banyak lagi kemungkinan yang lain.

Kain tenun songket Palembang ini, sangat menarik, ditelusuri sejarahnya, maknanya, dan teknik pembuatannya. Kalau kita menilik warnanya yang khas, dan motif hiasnya yang indah, pastilah kita berkesimpulan bahwa songket ini dibuat dengan keterampilan, ketelatenan, kesabaran,dan daya kreasi yang tinggi.

Seperti seni tenun daerah lainnya di nusantara kita, kain songket Palembang ini tidak diketahui persis kapan mulai dikerjakan. Untuk keperluan busana, mula-mula digunakan sebagai bahan dasar kulit kayu, kemudian rajutan daun-daun, dan yang terakhir ditanam kapas untuk dibuat benang sebagai bahan dasar kain tenun.

Palembang yang terletak di pulau Sumatra bagian Selatan ini dahulu menjadi pusat kerajaan Sriwijaya yang menjadi pintu masuk berbagai budaya dari manca negara. Mula-mula datang bangsa Portugis, kemudian bangsa India yang terakhir bangsa Cina. Pada abad ketujuh sampai abad kesebelas Masehi kerajaan Sriwijaya sedang jaya – jayanya dengan pelabuhannya yang ramai. Kecuali menjadi pusat perdagangan, Sriwijaya juga menjadi pusat agama Budha. Pusat kerajaan Sriwijaya, sekarang kota Palembang, merupakan tempat persinggahan pendeta dari Srilangka dan India yang akan pergi ke Cina. Itulah sebabnya budaya India ikut mempengaruhi motif hias kain songket Palembang.

Disamping itu pengaruh dari Cina juga melekat pada seni tenun Palembang terutama pada penerapan warna merah dan warna keemasan pada kain songket.

Karena adanya pengaruh budaya dari luar tadi terciptalah kain tenun dari Sriwijaya yang sangat indah dan bervariasi. Dengan demikian kain songket ini termasuk hasil budaya daerah yang harus dilestarikan.

Upaya Mengungkap Situs Sejarah Kerajaan Sriwijaya Di Kaur Kandas

Bengkulu (Berita) : Upaya untuk mengungkap keberadaan peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Bukit Kumbang, Kecamatan Muara Sahung, Kabupaten Kaur, Bengkulu, akhirnya kandas setelah tim yang melakukan penelitian tidak menemukan tanda-tanda yang mengarah adanya kehidupan di masa lalu.

Tim peneliti yang bekerjasama dengan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi tidak menemukan indikasi sedikitpun yang terkait dengan kemungkinan adanya aktivitas kerajaan di Bukit Kumbang, kata kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kaur Drs Djunaidi K Taim ketika dihubungi di Kaur, Jumat [03/08].
Menurut dia, tekad untuk melakukan penelitian itu muncul setelah adanya warga yang mengaku dan menduga kawasan Bukit Kumbang merupakan daerah bekas kerajaan Sriwijaya, dengan serpihan batu-batu unik dari kawasan bukit itu.

Namun setelah diteliti dengan mendatangkan tenaga ahli sejarah dari Jambi, tim tidak menemukan tanda-tanda ke arah bahwa daerah itu menjadi lokasi atau bagian dari sebuah kerajaan, padahal tim sudah bekerja selama dua hari pekan lalu.

Djunaidi mengatakan, sekalipun penelitian tahap awal tidak menemukan apa-apa dan tidak membuahkan hasil, pihaknya tahun depan tetap akan melakukan penelitian lanjutan, karena masyarakat bersama beberapa paranormal lokal masih yakin di wilayah itu ada peninggalan sejarah.

Keyakinan warga itu selama ini sudah dibuktikan dengan ditemukannya sebuah candi Jepara di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan yang bersebelahan dengan Bukit Barisan, Bukit Kumbang Muara Sahung, Kaur.

Selama ini informasi yang berkembang bahwa ada dugaan di lokasi itu merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya, karena warga sudah menemukan beberapa bangunan tua berbentuk candi yang dilengkapi sarana bebatuan unik seakan di lingkungan sebuah istana.

“Kita sudah coba melakukan penelitian secara ilmiah terhadap dugaan adanya situs sejarah yang pernah ditemukan sebelumnya di lokasi itu, namun tim belum membuahkan hasil,” ujarnya.

Yarsana, salah seorang paranormal di Kaur sebelumnya mengatakan, pihaknya berkeyanian bahwa di lokasi itu terdapat bekas candi yang diduga merupakan pusat Kerajaaan Sriwijaya.

“Saya pernah melihat beberapa bangunan candi di dalam perbukitan wilayah itu, dalam candi itu terdapat tempat bekas tahta kerajaan yang berlantaikan batu giok yang bernilai sejarah tinggi,” ujarnya.

Untuk membuktikannya, memang perlu penelitian mendalam, tidak cukup hanya satu atau dua hari saja, tambahnya. (ant )

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: