Ahmad Yani Blog's

1 Januari 2011

Suku Lampung

Filed under: Budaya & Etnis Lampung — Achmad Yani @ 4:37 pm

Suku Lampung

Suku Lampung adalah suku yang menempati seluruh provinsi Lampung dan sebagian provinsi Sumatera Selatan bagian selatan dan tengah yang menempati daerah Martapura, Muaradua di Komering Ulu, Kayu Agung, Tanjung Raja di Komering Ilir serta Cikoneng di pantai barat Banten

Asal-usul ulun Lampung (orang Lampung atau suku Lampung) erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri, walaupun nama Lampung itu dipakai mungkin sekali baru dipakai lebih kemudian daripada mereka memasuki daerah Lampung.

Beberapa pendapat asal-usul ulun Lampung
Catatan musafir Tiongkok yang pernah mengunjungi Indonesia pada abad VII, yaitu I Tsing, yang diperkuat oleh teori yang dikemukan Hilman Hadikusuma, disebutkan bahwa Lampung itu berasal dari kata To-lang-po-hwang. To berarti orang dalam bahasa Toraja, sedangkan Lang-po-hwang kepanjangan dari Lampung. Jadi, To-lang-po-hwang berarti orang Lampung.
Dr. R. Boesma dalam bukunya, De Lampungsche Districten (1916) menyebutkan, Tuhan menurunkan orang pertama di bumi bernama Sang Dewa Sanembahan dan Widodari Simuhun. Mereka inilah yang menurunkan Si Jawa (Ratu Majapahit), Si Pasundayang (Ratu Pajajaran), dan Si Lampung (Ratu Balau). Dari kata inilah nama Lampung berasal.

Legenda daerah Tapanuli menyeritakan, zaman dahulu meletus gunung berapi yang menimbulkan Danau Toba. Ketika gunung itu meletus, ada empat orang bersaudara berusaha menyelamatkan diri. Salah satu dari empat saudara itu bernama Ompung Silamponga, terdampar di Krui, Lampung Barat. Ompung Silamponga kemudian naik ke dataran tinggi Belalau atau Sekala Brak. Dari atas bukit itu, terhampar pemandangan luas dan menawan hati seperti daerah yang terapung. Dengan perasaan kagum, lalu Ompung Silamponga meneriakkan kata, “Lappung” (berasal dari bahasa Tapanuli kuno yang berarti terapung atau luas). Dari kata inilah timbul nama Lampung. Ada juga yang berpendapat nama Lampung berasal dari nama Ompung Silamponga itu.

Penelitian siswa Sekolah Thawalib Padang Panjang pada tahun 1938 tentang asal-usul ulun Lampung. Dalam cerita Cindur Mato yang berhubungan juga dengan cerita rakyat di Lampung disebutkan bahwa suatu ketika Pagaruyung diserang musuh dari India. Penduduk mengalami kekalahan karena musuh telah menggunakan senjata dari besi. Sedangkan rakyat masih menggunakan alat dari nibung (ruyung). Kemudian mereka melarikan diri. Ada yang malalui Sungai Rokan, sebagian melalui dan terdampar di hulu Sungai Ketaun di Bengkulu lalu menurunkan Suku Rejang. Yang lari ke utara menurunkan Suku Batak. Yang terdampar di Gowa, Sulawesi Selatan menurunkan Suku Bugis. Sedangkan yang terdampai di Krui, lalu menyebar di dataran tinggi Sekala Brak, Lampung Barat. Mereka inilah yang menurunkan Suku Lampung.

Teori Hilman Hadikusuma yang mengutip cerita rakyat. Ulun Lampung berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat. Penduduknya disebut Tumi (Buay Tumi) yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Sekarmong. Mereka menganut kepercayaan dinamis, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa.

Buai Tumi kemudian kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang datang ke sana. Mereka adalah Umpu Nyerupa, Umpu Lapah di Way, Umpu Pernong, dan Umpu Belunguh. Keempat umpu inilah yang merupakan cikal bakal Paksi Pak sebagaimana diungkap naskah kuno Kuntara Raja Niti. Namun dalam versi buku Kuntara Raja Niti, nama poyang itu adalah Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh, dan Indarwati. Berdasarkan Kuntara Raja Niti, Hilman Hadikusuma menyusun hipotesis keturunan ulun Lampung sebagai berikut:

Inder Gajah
Gelar: Umpu Lapah di Way
Kedudukan: Puncak
Keturunan: Orang Abung

Pak Lang
Gelar: Umpu Pernong
Kedudukan: Hanibung
Keturunan: Orang Pubian

Sikin
Gelar: Umpu Nyerupa
Kedudukan: Sukau
Keturunan: Jelma Daya

Belunguh
Gelar: Umpu Belunguh
Kedudukan: Kenali
Keturunan: Peminggir

Indarwati
Gelar: Puteri Bulan
Kedudukan: Ganggiring
Keturunan: Tulangbawang

Adat-istiadat
Pada dasarnya jurai Ulun Lampung adalah berasal dari Sekala Brak, namun dalam perkembangannya, secara umum masyarakat adat Lampung terbagi dua yaitu masyarakat adat Lampung Saibatin dan masyarakat adat Lampung Pepadun. Masyarakat Adat Saibatin kental dengan nilai aristokrasinya, sedangkan Masyarakat adat Pepadun yang baru berkembang belakangan kemudian setelah seba yang dilakukan oleh orang abung ke banten lebih berkembang dengan nilai nilai demokrasinya yang berbeda dengan nilai nilai Aristokrasi yang masih dipegang teguh oleh Masyarakat Adat Saibatin.

Masyarakat adat Lampung Saibatin
Masyarakat Adat Lampung Saibatin mendiami wilayah adat: Labuhan Maringgai, Pugung, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui, Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung, empat kota ini ada di Propinsi Sumatera Selatan, Cikoneng di Pantai Banten dan bahkan Merpas di Selatan Bengkulu. Masyarakat Adat Saibatin seringkali juga dinamakan Lampung Pesisir karena sebagian besar berdomisili di sepanjang pantai timur, selatan dan barat lampung, masing masing terdiri dari:
* Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat)
* Keratuan Melinting (Lampung Timur)
* Keratuan Darah Putih (Lampung Selatan)
* Keratuan Semaka (Tanggamus)
* Keratuan Komering (Provinsi Sumatera Selatan)
* Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten)

Masyarakat adat Lampung Pepadun

Masyarakat beradat Pepadun/Pedalaman terdiri dari:
* Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.

* Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.

* Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.

* Sungkay-WayKanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat Sungkay-WayKanan mendiami sembilan wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.

Falsafah Hidup Ulun Lampung

Falsafah Hidup Ulun Lampung termaktub dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu:
* Piil-Pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri)
* Juluk-Adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya)
* Nemui-Nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu)
* Nengah-Nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis)
* Sakai-Sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya)
Sifat-sifat di atas dilambangkan dengan ‘lima kembang penghias sigor’ pada lambang Provinsi Lampung.

Sifat-sifat orang Lampung tersebut juga diungkapkan dalam adi-adi (pantun):
Tandani Ulun Lampung, wat Piil-Pusanggiri
Mulia heno sehitung, wat liom khega dikhi
Juluk-Adok kham pegung, Nemui-Nyimah muakhi
Nengah-Nyampur mak ngungkung, Sakai-Sambaian gawi.

Bahasa Lampung
Bahasa Lampung, adalah sebuah bahasa yang dipertuturkan oleh Ulun Lampung di Propinsi Lampung, selatan palembang dan pantai barat Banten.
Bahasa ini termasuk cabang Sundik, dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat dan dengan ini masih dekat berkerabat dengan bahasa Sunda, bahasa Batak, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Melayu dan sebagainya.

Berdasarkan peta bahasa, Bahasa Lampung memiliki dua subdilek. Pertama, dialek A (api) yang dipakai oleh ulun Sekala Brak, Melinting Maringgai, Darah Putih Rajabasa, Balau Telukbetung, Semaka Kota Agung, Pesisir Krui, Ranau, Komering dan Daya (yang beradat Lampung Saibatin), serta Way Kanan, Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun). Kedua, subdialek O (nyo) yang dipakai oleh ulun Abung dan Tulangbawang (yang beradat Lampung Pepadun).
Dr Van Royen mengklasifikasikan Bahasa Lampung dalam Dua Sub Dialek, yaitu Dialek Belalau atau Dialek Api dan Dialek Abung atau Nyow.

Aksara Lampung
Aksara lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.
Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.
Aksara lampung telah mengalami perkembangan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung kuno jauh lebih kompleks. Sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Huruf atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan tersebut.

Tokoh Tokoh

Nasional :
* Pangeran Edward Syah Pernong
* Alamsjah Ratoe Perwiranegara
* Aburizal Bakrie
* Ryamizard Ryacudu
* Alzier Dianis Tabranie
* Bagir Manan
* Tursandi Alwi

Praktisi dan Profesional:
* Henry Yosodiningrat
* Andi Arief
Seniman dan Budayawan:
* Andi Ahmad Sampoerna Jaya
* Hila Hambala

Akademisi dan Tokoh Pendidikan:
* A. Effendi Sanusi
* Irfan Anshori
* Hilman Hadikusuma

Wartawan dan Jurnalis:
* Sazeli Rais
* Herman Zuhdi
* Yasir Denhas
* Udo Z. Karzi

Pahlawan Pejuang Kemerdekaan:
* Radin Inten II

Referensi
* Hilman Hadikusuma dkk. 1983. Adat-istiadat Lampung. Bandar Lampung: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung.

Dari wikipedia & berbagai sumber non komersil

4 Komentar »

  1. Dari beberapa tulisan dan silsilah dpt disimpulkan:
    Suku Asli Lampung (yg pertama kali mendiami daerah Lampung) adalah Buay Tumi mereka mendiami daerah Liwa dan sekitarnya (Kenali, Bkt Pesagi, Ranau) mereka ini disebut Rumpun Seminung.
    Setelah itu datang beberapa Puyang yg mempengaruhi(berbaur/menikahi) mereka, yakni:
    1. Puyang Abung, awalnyadari daerah Bengkulu (kaur) masuklah Suku Abung, Suku Abung kl dari silsilahnya adalah Tuan Guru sakti (mungkin dr pagaruyung) mempunyai anak namanya Bebatak, Bebugis dan Begeduh, Begeduh inilah yg menurunkan suku abung, di kaur Bengkulu Puyang abung kawing dengan Umpu Setungau/Putri setenggang orang serawai yg mungkin dari rumpun Dempo, lalu mereka pindah ke Danau ranau, disini puyang abung melakukan perkawinan dengan Putri Ranau dari Rumpun seminung, karena ada perselisihan dengan Aji Saka maka suku abung pindah ke Martapura, lalu pindah kembali ke Skala brak/Segara Brak/Bukit Pesagi, dari sini mereka pindah ke Canguk Gatchak, lalu menyebar ke Lampung utara, Lampung Tengah, Lampung timur dan Hingga Ke Bandar Lampung. ada juga yg pindah kedaerah Kayu Agung dan Lempuing di Ogan Komering Ilir.
    Suku Abung terdiri dari sembilan marga yg disebut Abung Siwo Migo.
    2. Puyang Aji saka adalah puyang yg berasal dari india bagian selatan, kemungkinan besar beragama hindu dan mempunyai kesaktian yg tinggi, puyang ini mempunyai dua Istri, salah satunya dari Bukit pesagi rumpun seminung yakni putri dayang mestika, keturunannya ini menyebar ke beberapa daerah di Lampung dan Sumsel, biasanya kebuayan mereka masih menggunakan kata Aji, semisal buay Aji, Aji kagungan, Sandang Aji, Suku Pakngepuluh buay Aji dll
    3. Puyang Naga Berisang, diperkirakan puyang ini berasal dari Tiongkok selatan, setelah menikah dengan Putri dari Rumpun seminung, maka keturunannya pun menyebar ke daerah Lampung(Way kanan, Tulang Bawang) dan Sumsel (Komering)
    4. Puyang lain dari Pagaruyung (Belunguh, Pernong dll), puyang2 ini pun melakukan perkawinan dengan Rumpun seminung, keturunannya menyebar di Lampung tengah (pubiyan), Lampung barat (paksi pak) dan Lampung selatan.

    Pada kenyataaan dari dulu hingga sekarang, keturunan dari Buay Tumi dan Puyang2 diatas saling berinteraksi(kawin) yg menghasilkan keturunan2 yg lain.

    Dijaman Keratuan pada abad 14~15 M ada 4 Keratuan dilampung, keratuan itu dibentuk untuk menghindari perselisihan terhadap daerah hunian masing2 keturunannya, 4 Keratuan tersebut adalah:
    1. Keratuan DiPuncak (Suku Abung)
    2. Ketauan DiPemanggilan (Aji,Komering & Way Kanan)
    3. Keratuan DiPugung (Pubiyan)
    4. Keratuan Dibelalau (Liwa, Krui dan Ranau).

    Setelah zaman kemerdekaan maka Rumpun Seminung mereka dipisahkan menjadi 2 Propinsi yakni Lampung dan Sumsel, dimana Suku yg Sungainya yg mengalir/bermuara ke sungai Musi masuk Ke daerah Sumsel dan yg bermuara ke Laut khususnya Laut Jawa masuk ke Lampung.
    Karena beda provinsi dan ada guratan2 perselisihan pada zaman dulu, maka yg muncul adalah egoisme masing2 suku padahal semuanya berinduk pada rumpun yg sama yakni Buay Tumi Rumpun Seminung yg mana sebenarnya kita harus menjaga dan melestarikan budaya dan adat dari Rumpun seminung ini bersama-sama.
    Semoga bermamfaat.

    Komentar oleh tihangjaya — 28 Februari 2011 @ 3:04 pm | Balas

  2. Searcing sepuasnya mendapatkan kesimpulan :
    Buay Tumi berasal dari RANAU.. lalu ?

    Komentar oleh Usman Ali — 13 Mei 2012 @ 1:06 am | Balas

  3. Ass.WW. Tabik pun kilu mahap, aga ngeluleh jama penulis, dipa alamat sekam ki aga menghubungi, wass- H.Herman Zuhdi, asal jak pekon Tanjung Jati Warkuk Ranau

    Komentar oleh Herman Zuhdi — 2 Juni 2013 @ 9:42 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: